writing/Apr 21, 2025

Focus ke Problem yang Mau Diberesin, Jangan Terdistract Sama Solusi Kerennya

product-managementWritten in Bahasa Indonesia

Saya pernah beririsan sama satu inisiatif produk yang cukup berkesan. Sayangnya bukan kesan yang menyenangkan. 😅

Tapi yaa, kadang justru kita perlu ketampar dulu biar bisa belajar.

Waktu itu saya masih anak baru dan kebetulan diajak ikut kickoff meeting inisiatif ini.

Jujur, saat itu saya lumayan amazed pas merhatiin presentasinya.

Stakeholders dan tim product-nya keliatan kompak, semangatnya juga luar biasa.
🗣️ "Inisiatif ini bakal jadi fitur killer!", kata si A.
🗣️ "User pasti jatuh cinta sama fitur ini!", kata si B.
🗣️ "Berikut dari sisi timelinenya, kita akan rilis MVP-nya di bulan ….", kata si C.

Semua orang kelihatan percaya diri banget sama solusi yang akan dikerjain.

Singkat cerita… inisiatif ini gak berjalan mulus 😔

  1. Tim productnya kelimpungan, karena secara technical solusi yang dikerjain cukup kompleks.
  2. Scope yang disepakati gak berhasil dideliver sesuai timeline.
  3. Dan ketika dirilis… user gak antusias.

User lebih nyaman pakai solusi lama, yang sebelumnya dianggap "gak ideal" dan akan digantiin sama solusi yang baru.

Dari situ saya mulai penasaran dan coba telusuri:
Sebenernya, problem apa sih yang coba ditackle dari solusi ini?

Ternyata… setiap orang punya pemahaman problem yang beda-beda.
Ada yang bilang ini soal user experience saat bertransaksi,
Ada yang ngomong ini soal kepatuhan terhadap aturan internal,
Dan seterusnya..

🔍 Dari situ saya mulai sadar.
Kemaren kita gak benar-benar fokus di problemnya, tapi terlalu jatuh cinta sama solusinya.

📚 Fall in Love with the Problem, Not the Solution

Ini judul buku karangan Uri Levine, co-founder Waze, yang sempat saya baca setelah kejadian di atas.

Salah satu pesan penting dari buku ini adalah:
❌ Jangan jatuh cinta sama solusi
✅ Selalu jatuh cinta sama problemnya dulu

Kita wajib validasi dulu, apakah problem ini bener-bener worth solving?

Setelah itu, baru kita eksplor "potensi solusi"nya.
Kenapa saya bilang "potensi solusi"?

Karena setelah baca buku ini, saya jadi selalu nambahin kata "potensi" di depan "solusi".

Supaya inget, apa yang lagi kita kerjain itu baru satu dari sekian banyak opsi solusi, belum tentu yang paling tepat.

🔁 Refleksi buat kita semua

Solusi itu emang menggoda banget. Kalau gak hati-hati, kita bisa kejebak.

Kalau sekarang tim kamu lagi ngerjain sesuatu yang secara teknis berat banget, coba refleksi sebentar..

  • Sebenernya, problem apa yang mau diselesaikan?
  • Apakah ada cara yang lebih sederhana buat nyampe ke outcome ini?

💬 Gimana dengan temen-temen?
Pernah ngalamin momen terlalu fokus sama solusi juga?

Yuk diskusi di kolom komentar! 👇

Originally published on Medium