writing/Feb 18, 2025

Asynchronous vs Synchronous: Apakah Setiap Hal Baru Selesai Setelah Meeting?

product-managementWritten in Bahasa Indonesia

Dulu, setiap kali ada sesuatu yang butuh kejelasan, baik dari saya maupun tim, refleks pertama kami selalu: "Yuk, kita Google Meet. Ini linknya…"

Meeting kerasa jadi solusi paling efektif karena bisa langsung tanya jawab dan memastikan semua orang punya pemahaman yang sama. Tapi makin ke sini, saya justru sadar kalau setiap hal baru selesai setelah "dimeetingkan", berarti sebenernya ada yang salah.

Menurut saya, komunikasi synchronous tetap penting untuk hal-hal seperti:
✅ Membuat keputusan kompleks yang perlu banyak pihak → Butuh sync biar gak miskom.
✅ Brainstorming → Meeting sync tetap yang terbaik.
✅ Retrospective atau menyamakan ekspektasi → Tatap muka langsung lebih efektif.

Tapi kalau hanya untuk hal-hal seperti:
❌ Review dokumen atau artifacts.
❌ Klarifikasi sesuatu yang sederhana.
❌ Update progress yang gak butuh keputusan kompleks.
Maka komunikasi asynchronous jauh lebih efisien.

Sekarang, saya dan tim makin banyak memanfaatkan diskusi async, contohnya:
📌 Bales-balesan komentar di ClickUp buat klarifikasi atau kasih informasi terkait ongoing task.
📌 Pakai fitur komentar di Google Docs, Spreadsheet, Slides, dst buat memberi feedback terkait artifacts product.
📌 Buat thread diskusi di channel squad supaya terdokumentasi dan semua anggota squad bisa notice.

Alhamdulillah, setelah dibuat konsisten, sekarang jejak diskusi jadi terdokumentasi, waktu meeting berkurang, waktu produktif bertambah, dan udah jarang denger: "Yuk, kita Google Meet!" 😆

Bagaimana dengan teman-teman? Boleh dong share pengalaman kalian di kolom komentar! 👇

Originally published on Medium